*Tema "Bangkit Bersama Untuk Indonesia" yang menceritakan kisah inspiratif tentang sosok penerima apresiasi SATU Indonesia Awards*
Warisan leluhur di Desa Tanon
Kisah PETANI DI DESA MENARI, SEMARANG, JAWA TENGAH 2014
Bertani dan bercocok tanam sudah menjadi biasa bagi masyarakat Indonesia sejak dari jaman dahulu, secara geografis dan wilayah Indonesia dikelilingi hamparan wilayah yang sangat subur tanahnya, mau menanam apapun sepertinya akan tumbuh dengan baik hasilnya.
Budaya dan kebaikan bisa datang darimana saja, masyarakat Indonesia sudah menjadi terbiasa dengan membantu sesama, nenek moyang mengajarkan kita juga untuk saling gotong royong. Sudah sepatutnya kita melestarikannya.
Kedua hal diatas tersebut bersinggungan dengan pembahasan kali ini yang mengangkat sosok petani yang bergelar sarjana Sosiologi Universitas Muhammadiyah bernama Trisno, ia sangat konsen terhadap kampungnya Desa Tanon menjadi Desa Wisata.
Ajakan dari Kang Tris, sapaan akrabnya terhadap masyarakat tidak semulus harapannya di awal, karena tidak sedikit meragukan kemampuannya, namun dengan tekadnya lama kelamaan masyarakat mau menerima ide dari Trisno dengan berdiskusi terus menerus kepada masyarakat setempat.
Upaya dan ide tersebut di gagas Trisno pada tahun 2012 dengan unik yaitu menciptakan brand di Desa Tanon yaitu, "Desa Wisata (Dewi) Menari". Pasalnya sebagian masyarakat di Desa tersebut mempunyai keturunan sebagai seniman tari dan untuk itu pengunjung yang datang di Desa Menari akan disuguhkan oleh beragam kesenian tari dari penduduk setempat, seperti Topeng Ayu, Kuda Debog, Kuda Kiprah dan Warok Kreasi.
Kang Tris sangat serius dalam pengelolaan di desanya dengan membuat konsep laboratorium sosial yang terdiri dari 3 jenis konversasi, yaitu konversasi profesi asli masyarakat, dolanan tradisional dan kesenian lokal. 3 konversasi inilah yang digerakkan dan ditampilkan masyarakat.
Kadang stigma petani itu sangat tidak baik di mata masyarakat luas, namun Kang Tris mempunyai pemikiran bahwa "Petani dan Peternak itu tidak mesti menyangkut atau merumput, mengolah produk dan membuat sistem dan pasar yang berkeadilan, menerapkan teknologi itu kan proses dari bertani dan berternak" terangnya.
Berbagai tantangan muncul namun dengan semangat Kang Tris dalam kurun waktu 3 tahun perjalanan desa wisata ini menghasilkan 250 juta dan turis baik lokal maupun mancanegara pun silih datang berganti ke tempat tersebut.
Dalam beberapa tahun kemudian pandemi pun datang, dimana seluruh kegiatan aktivitas masyarakat dihentikan dan dibatasi sangat berdampak pada juga di Desa Tanon, yang awalnya turis datang untuk berkunjung namun harus berhenti karena pembatasan tersebut seolah mati suri.
Namun hal tersebut tidak menyurutkan Kang Tris untuk tetap bangkit dan konsisten mempertahankan apa yang sudah dilakukannya untuk Desa Tanon, berbagai kegiatan aktivitas dilakukan dalam membantu masyarakat berdasarkan 4 pilar yang digagasnya, kegiatan kewirausahaan, bertani dan berternak masih dilakukan, serta kegiatan aktivitas kesehatan ada kegiatan tes tekanan darah, saturasi oksigen.
Di bidang pendidikan dan lingkungan Kang Tris, mempertahankan aspek profesi asli khususnya kepada anak-anak muda agar tetap bertahan dan tidak lupa terhadap kampung halamannya, Trisno mengharapkan anak muda dapat berkembang dan tidak menjadi butuh ditempat lain, namun bisa memulai dan menjadikan desanya sendiri dalam bertani dan perternakan dengan cara muda mereka sendiri.
Apa yang dilakukan Trisno tersebut sangatlah bermanfaat dan inspiratif bagi kita khususnya anak-anak muda yang masih memiliki semangat untuk memajukan desanya, didasari dengan keinginan bangga dan cinta terhadap kampung halaman, apa yang dilakukan Kang Tris membuka mata bahwa apa saja bisa dilakukan dan bisa berdampak baik lingkungan dan kampung kita dengan cara yang inovatif dan positif.